Hal itu terjadi akibat algoritma yang diatur, dengan menampilkan informasi yang relevan dan sering diakses serta disukai pengguna media sosial bersangkutan. Disitulah kamu harus waspada agar tidak terjebak dalam ruang gema atau echo chamber.
Singkatnya, Echo chamber atau ruang gema adalah lingkungan di mana seseorang hanya menemukan informasi atau pendapat yang mencerminkan dan memperkuat pendapat mereka sendiri.
Echo Chamber sebagai dampak Algoritma Media Sosial
Salah satu dampak algoritma media sosial adalah terciptanya echo chamber atau ruang gema.
Bagi penulis buku Nudge: Improving Decisions about Health, Wealth, and Happiness (2008), Cass Sunstein, media sosial bak pisau bermata dua.
Kehadiran media sosial, kata Cass Sustein, dapat mengatasi beberapa hambatan sosial yang disebabkan letak geografis. Artinya, semua orang dapat berkomunikasi dengan siapa saja dan tentang apa saja tanpa terbatas ruang serta waktu. Maka, media sosial berpotensi besar menghadirkan pandangan yang lebih seimbang tentang dunia.
Di sisi lain, Cass Sustein khawatir bahwa media sosial hanya menyedot orang-orang ke dalam kelompok-kelompok yang homogen atau sepandangan tentang suatu hal. Orang-orang akan dijauhkan dari informasi-informasi yang berbeda dengan pandangannya.
Hal ini dapat membuat informasi yang salah dan mendistorsi perspektif seseorang sehingga mereka kesulitan mempertimbangkan sudut pandang yang berlawanan dan mendiskusikan topik yang rumit.
Echo chamber dapat terjadi di mana saja informasi dipertukarkan, baik itu online atau dalam kehidupan nyata. Namun, hal ini akan menjadi masalah saat berada di dunia maya.
Internet memiliki tipe unik dari echo chamber yang disebut filter bubble yang dibuat oleh algoritma untuk melacak apa yang kita klik.
Di platform online tertentu, seperti Twitter, echo chamber lebih mungkin ditemukan ketika topiknya lebih bersifat politis dibandingkan dengan topik yang dianggap lebih netral. Komunitas jejaring sosial adalah penguat rumor yang kuat karena orang lebih memercayai bukti yang diberikan oleh kelompok sosial mereka sendiri, daripada media berita .
Ruang gema dekat dengan media sosial karena sangat mudah terbentuk di ekosistem media sosial. Di dalam media sosial, algoritma merupakan biang keladi utama yang mengamplifikasi terjadinya ruang gema. Amplifikasi tersebut terjadi karena algoritma yang ada di media sosial membuat seseorang mendapatkan informasi sesuai dengan preferensi pribadi.
Pengguna media sosial biasanya akan mendapatkan informasi yang sama atau serupa dengan informasi yang pernah mereka akses sebelumnya di ruang gema. Pengguna akan mendapatkan informasi selaras dengan preferensi yang disesuaikan dengan aktivitas atau perilaku mereka dalam menggunakan layanan media sosial terkait. Hal tersebut dapat terjadi karena pengaruh suatu sistem yang mengatur konten yang akan diterima seorang pengguna media sosial. Sistem tersebut didefinisikan sebagai algoritma filter bubble.
Echo Chamber ada disekeliling kita
Sejatinya echo chamber tak hanya di media sosial saja. Echo chamber juga bisa terjadi di dunia nyata, saat kita cenderung merasa nyaman dan bergaul hanya dengan lingkaran orang-orang yang sepemikiran dan satu identitas dengan kita.
Banyak komunitas offline yang dipisahkan oleh keyakinan politik dan pandangan budaya. Efek ruang gema dapat mencegah individu untuk memperhatikan perubahan bahasa dan budaya yang melibatkan kelompok selain mereka sendiri.
Sementara itu, menurut sebuah artikel oleh C. Thi Nguyen, ruang gema adalah apa yang terjadi ketika orang dalam tidak mempercayai semua orang di luar. Dan itu berarti kepercayaan orang dalam terhadap orang dalam lainnya bisa tumbuh tak terkendali. Oleh karena itu, ruang gema sangat mirip dengan sekte. Ruang gema mengisolasi anggotanya, bukan dengan memutus jalur komunikasi mereka ke dunia, tetapi dengan mengubah siapa yang mereka percayai. Dan ruang gema tidak hanya di sebelah kanan tetapi juga di sebelah kiri.
Berikut kiat-kiat mewaspadai echo chamber :
1. Memperluas pertemanan dengan beragam orang yang tidak selalu satu gagasan dan identitas primordial (SARA)
Jangan hanya berkawan dengan orang yang seagama, sealiran penafsiran, sesuku, sepemikiran, satu profesi, sekelompok hobi, satu apa saja denganmu.
Kita beruntung hidup di Indonesia, negara bhineka ini. Manfaatkanlah keuntungan ini untuk memperluas pertemanan dengan beragam insan dan kelompok.
2. Mengakses beragam media, bukan hanya media-media yang mendukung gagasan kita saja
Di negara mana pun, juga di Indonesia, media tidaklah selalu netral. Di balik media, ada pemilik media yang mendikte berita-berita yang boleh ditulis.
Jika Anda pendukung pemerintah atau kelompok sosial tertentu, jangan cuma membaca media pro pemerintah atau pro kelompok tertentu itu. Baca juga "media oposisi" untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai opini tandingan.
Inilah prinsip "covering both sides" atau merangkum pendapat dua pihak agar kita memiliki pandangan seimbang sebelum memutuskan atau menilai.
(Media) pemerintah tidak selalu benar. (Media) oposisi pun tidak selalu buruk. Kita sebagai pembaca berita perlu memahami kedua argumentasi, baik dari pemerintah maupun oposisi.
3. Kritis terhadap sajian medsos dan algoritma media sosial
Di media sosial, sejatinya ada opsi juga untuk "melihat konten jenis ini lebih jarang" (see less often). Hanya saja, kita sering menerima begitu saja konten yang disajika oleh algoritma media sosial.
Kita seharusnya lebih kritis terhadap sajian medsos dan algoritma media sosial. Cobalah sejenak menilai diri: apakah aku sudah terjebak dalam echo chamber algoritma media sosial, tetapi tidak menyadarinya?
Mengapa aku tidak tertarik memahami pendapat orang (akun) lain yang tidak sepemikiran dan tidak satu identitas (primordial) denganku?
Salam cerdas dan salam literasi...
Penulis : Muhammad Nanda Septiya Nugraha
0 Comments